KESALAHAN DALAM MENDIDIK ANAK

Oleh : Pursetyantoro,S.Pd ( Guru BK SMPN 3 Sampung)

Lembaga pendidikan (sebut saja sekolah) hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekedar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun  sangat disayangkan ada tuduhan sebagai lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai tabiat dan perilaku buruk anak. Oleh karena itu bila anak ingin sukses dunia dan akhirat dalam pertimbangan utama maka, orang tua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sesuai pemembentukan  karakter anak, terutama dalam pembentukan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT. Dengan kata lain, apakah sekolah tersebut sudah menerapkan dan menjalankan pembiasaan- pembiasaan pembentukan karakter pribadi anak?Kalau jawabannya  sudah, maka pilihlah sekolah tersebut.

Berikut bebrapa contoh kesalahan orangtua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya :

  1. Salah tujuan.

Dalam hal mendidik orang tua haruslah berangkat dari niat menjalankan perintah Allah yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orang tua yang memang dituntut mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah SWT yang bertaqwa , shalih dan menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.

  1. Salah teladan

Keteladanan memiliki  pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orang tua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Keteladan yang salah akan membuat anak  terdidik diatas kebiasan buruk dan perilaku negatif . Karena itu orang tua harus memilih lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi moral dan akhidah yang baik. Serta memiliki kelebihan ilmu,  amal  dan lebih berpenglaman di banding murid-muridnya. Contoh :  Keteladanan orang tua di rumah,  menyuruh anak mengerjakan sholat, akan tetapi si orang tua malah enak-enak menonton TV. Jadi tidak ada keteladan orang tua.

  1. Salah metode dalam membantu anak belajar

Bisa saja cara membantu anak dalam belajar sudah baik, tetapi cara menyampaikannya yang tidak tepat sehingga tujuan dari membantu anak dalam belajar tersebut jadi tidak berhasil.

Misal orang tua dirumah menyuruh anaknya belajar tetapi dengan cara membentak-bentak, atau dengan iming-iming tertentu. Anak tidak mau belajar kalau tidak di bentak atau di beri iming-iming tertentu. Jadi anak belajar tidak dengan niat yang timbul kesadaran sendiri.

Di dalam lembaga pendidikan, sekolah misalnya apabila cara penyampaian metode belajar juga tidak tepat maka akan timbul tujuan dan target belajar yang tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Sebagai contoh mendisiplinkan anak dengan sanksi kekerasan fisik hanya membentuk anak berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi pada anak didik yang berlebihan juga akan membuat anak didik semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cintai dunia. Sementara anak  yang selalu di abaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Apa bila anak di sekolah hanya di cecar dengan hafalan, tetapi kurang di ajak memahami suatu permasalahan maka si anak menjadi tidak peka terhadap suatu masalah. Sehingga anak didik menjadi acuh tak acuh terhadap suatu permasalahan belajarnya.

  1. Motivasi yang kurang tepat atau memberikan motivasi yang berlebihan.

Kesalahan orang tua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak bisa memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendorong anak berprestasi dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi dengan cara agar tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga dengan prestasi yang telah dicapainya. Alhasil, bila anak tidak bisa berprestasi yang di harapkan , maka anak tersebut menjadi anak yang frustasi dan menjadi anak yang malas belajar. Sedangkan anak yang di dorong agar prestasi pada anak tidak tersaingi oleh teman-temannya maka akan timbul sifat angkuh, sombong dan egois.

Dan anak yang dimotivasi agar bangga dengan prestasi yang di capainya maka, akan tumbuh menjadi anak yang tidak pandai bersyukur kepada Allah SWT. Anak tersebut hanya punya semangat dalam menuntut ilmu, tetapi anak tersebut akan kehilangan kendali bila gagal.

  1. Tidak disiplin dan kurang tertib

Orang tua dan guru harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan tugas-tugas harian terutama terkait dengan kewajiban agama dan ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolah. Anak harsu dilatih membiasakan sholat fardhu tepat waktu dan berjamaah di masjid ( bagi anak laki-laki), melatih diri untuk berpuasa dan mentaati perintah orang tua dalam kebaikan bukan dalam kemaksiatan.

  1. Hanya Pendidikan formal

Sebagian orangtua sudah merasa cukup mendidik anak bila sudah memberi mereka pendidikan formal atau kursus di bimbingan belajar. Padahal, lembaga formal kebanyakan hanya mengajarkan ilmu keduniaan saja tanpa memperdulikan pendidikan akidah –akhlak dan pendidikan berbasis kemandirian. Alhasil, lulus dari pendidikan formal anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan hidup. Sebab kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat memenuhi hanya dengan sekolah formal saja.

  1. Kurang mengenalkan tanggngjawab.

Orang tua harus mengenalkan kepada anak-anaknya rasa tanggungjawab kepada agama, diri dan lingkungannya. Bahkan anak harus di kenalkan untuk menyantuni anak yatim piatu fakir miskin. Juga di kenalkan kewajiban zakat, sedekah dll. Agar anak tumbuh rasa tanggungjawab dan sensitivitasnya pada agama, lingkungan, rumah bahkan  lembaga sekolahnya.

  1. Menjauhkan anak dari orang-orang shalih.

Kedekan anak dengan para ulama dan orang shalih akan memotivasi anak untuk cinta pada kebaikan, amal shalih, dan lingkungan yang bagus. Siapa yang berkumpul dengan orang-orang baik/shalih atau hidup dilingkungan yang baik, maka akan tertukar kebaikan. Dan sebaliknya siapa yang berkumpul dengan orang-orang buruk atau hidup dilingkungan yang buruk, maka akan pula terkena getah keburukannya.

DAFTAR PUSTAKA/ SUMBER BACAAN

  1. Abidin bin Syansudin, Zaenal, Lc. 2015. Untukmu anak Shalih. Penerbit: Almizan.Yogyakarta.
  2. Wijayanto,Iip. 2017. Bina Islam Anak Shalih. Penerbit: RenekaCipta.Bandung.