Desa Glinggang bergegas Menuju Desa Wisata

Pada hari Ahad tanggal 25 Pebruari 2018 bertempat di ruah Bapak Isbandi Desa Glinggang Kecamatan Sampung diselenggarakan sarasehan bertajug  Glinggang  sebagai destinasi Wisata Budaya siap menyambut kehadliran Wisatawan domestik maupun manca Negara. Kegiatan tersebut dihadliri oleh para Kepala Bidang di Lingkungan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Ponorogo dan Camat Sampung. Mengawali kegiatan tersebut, semua tamu undangan dan para nara sumber diajak keliling ke 12 RT yang ada di desa Glinggang .Tujuan diselenggarakan keliling desa sebagai sarana bagi para narasumber untuk melihat sejauh mana peran masyarakat dalam  mempersiapkan diri sebagai desa wisata.

Dengan menggunakan kendaraan modivikasi yang biasa disebut odong – odong para tamu undangan menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang  potensi yang dimiliki desa glinggang dan semangat masyarakat Glinggang yang nantinya sebagai pelaku wisata desa. Dari pengamatan penulis, masyarakat setempat memang layak mendapatkan apresiasi atas kekompakan dan kerelaan mereka untuk menata desa Glinggang lebih besih indah dan menarik dan layak menjadi  tempat kunjungan wisata, hal ini dibuktikan bahwa masing – masing Lingkungan Rukun Tentangga telah mampu menyajikan  pagelaran Gejug Lesung secara live serta kawasan hijau sebagai penopang keindahan desa tersebut. Berdasarkan penjelasan Kepala Desa Glinggang bahwa masyarakat Glinggang  mayoritas petani sawah serta beberapa komunitas pedagang.

Pada acara sarasehan tersebut menghadirkan Ir Doto Yugantoro, praktisi Desa Wisata wilayah Jogjakarta sekaligus staf kementrian Pariwisata Republik Indonesia. Saat team dari  kementrian Pariwisata keliling di seluruh pelosok desalinggang , beliau dengan cermat mendokumentasikan hal hal yang beliau lihat, ternyata apa yang didokumentasikan oleh beliau menjadi bahan bagi beliau untuk memberikan evaluasi atas layak dan tidaknya desa Glinggang mengikrarkan diri sebagai desa wisata. Menurut beliau untuk dapatnya sebuah desa akan lahir sebagai desa wisata maka ada lima hal yang perlu mendapatkan perhatian ” ASLI – LOKAL – UNIK – INDAH DAN SDM” lima aspek tersebut secara rinci beliau kupas dan disampaikan kepada para peserta sarasehan, misal tentang pemahan asli, asli dimaksudkan bahwa yang ditambilkan betul-betul asli bahkan pertama tidaka ada di tempat lain atau setidaknya muatan lokal betul betul dominan, di Desa Glinggang nampak mengangkat  Gejuk Lesung sebagai seni budaya asli dimana tempo dulu leluhur  desa menggunaan lesung untuk menumbuk padi, tentu dengan gejuk lesung tidak serta merta ada tetapi melalui proses.

Sedangkan pemahaman kita tentang lokal adalah seni yang memang tumbuh dan berkembang di desa setempat, sedangkan Unik tentu kita tidak bisa mendefinisikan unik dengan tepat, tetapi setidaknya unik adalah sesuatu yang secara pihsik sangat spesifik dan jarang ditemui serta memiliki nilai seni yang dapat  memberikan daya tarik kepada orang yang melihat dan atau mendengarnya. Sedangkan Indah adalah bagaiman sebuah kesenian dapat dinikmati oleh orang lain, bukan indah menurut pribadi, sehingga  oleh pemerhati seni memiliki nilai yang dapat dinikmati dan pada akhirnya akan dapat di jual dalam arti ada nilai bisnis yang dapat dikembangkan. Adapun sumberdaya Manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sebuah seni, maka memiliki peran yang sangat penting dalam rangka mengemas suatu acara pagelaran (bersambung-anifa)